konstelasi
October 12th, 2009 by membayangkan-widhyDari tubuh yang hampir rubuh
Adonan khayal merasuk
Parfummu kureguk
Bersama warna kamar
Dan pikiran munafik
Dari tubuh yang hampir rubuh
Adonan khayal merasuk
Parfummu kureguk
Bersama warna kamar
Dan pikiran munafik
aku lihat dan percaya
kau menyia-nyiakan waktu
meminta apa yang tak kupunya
hidup
aku tak pernah takut
sungguh ironi yang menyenangkan
kau mau berbagi takutmu
sedang aku hantu
ada dua kesepian yang amat muram
hari tua dan sendiri
ada dua keriangan yang abadi
tangis bayi dan susu
ada dua waktu dalam pelukanmu masa kanak dan memiliki cucu
1.
Jika ini syair maka inilah suatu yang sempurna seperti bentuk payudara
Jika kau membencinya maka jauhilah masa kecilmu
Jika ia melukaimu bersyukurlah kau masih merasa
Jika hidup begitu berat maka kematian tak akan sanggup kau tanggung
2.
di atas segalanya yang paling indah adalah katalog seni
jika bukan doa yang manja maka isinya melulu luka yang baik
3.
na na na na na na na
dan aku tak mampu lagi sembunyi
4.
dan kau berkata ‘ini tisu, basuh pucatmu’
dengan putih dan kesepian yang kita bagi
5.
jika ini syair yang datang bersama hujan maka ini bukanlah komedi
jika kau tidak sedang dalam keadaan senang maka dekatilah pintu
jika ia mengarahkan pandangannya padamu bersyukurlah masih ada jalan keluar
jika hidup berarti maka seperti itulah mati
: yang lahir dari hatiku bersuara lebih keras dari kenyataan
dari gambar yang dibentuk, acak dan abai. dari hal yang tertentu, hidup dan terbakar. yang datang dengan gurih mentega. dengan alas kata. yang biru dan kelabu. angka-angka dan lingkaran. gema dan skema. manusia dan imajinasinya.
kau begitu bingung membaca. mulailah dengan apa yang tidak ditulis. kau selalu demikian. bersiap. berahasia. berencana. kau selalu demikian. memasak. merangkai. menangis. kau selalu demikian. cantik. mendidih. mengaduh.
yang pertama baru bisa sya la la. sesuai janjiku kau bahagia. selain rumah dan kerja. kopi dan buku. sekarang sya la la. dan kita melaluinya dengan baik. setidaknya kata tetangga. yang selalu bertemu sya la la kala sore bersepeda.
demi pohon mangga dan bambu. yang bicara pada kita. suara-suara dan tetabuhan. yang memaki kita. lampu neon dan laron. kunang-kunang dan kebon singkong. kabut dan aspal basah. perjalanan dan lukisan. affandi dan picasso.
dari negeri blues. adzan dan ratapan budak. darah dan pecut. dari mulut yang bicara politik. dan perasaan yang tertahan. sihir-sihir dan mantra-mantra. dan dongeng moral. pikiran kita tentang tanah. sejarah bukan janji. sayang kita bukan eksil.
mungkin saja sendirian. itu pilihan. aku menggambar burung biru dengan jambul ungu. kau menggambar dengan lebih banyak warna. aku memilih malna ketika membaca callista. sedangkan kau berdoa menghadap ursa major.
bumbu dapur. batagor. sate padang. es krim. dan pemilu. semua atas nama belanja. dan kita sederet barkode. antrian. dunia tak lebih luas dari kamar tidur. di luar sana juga tak kujumpai lagi gempa. bintang yang tak mudah ditangkap ekornya.
kau masih sibuk menafsirkan. selalu bersama makna. dimana ada malu selalu ada mau. dan kita terjebak dalam teks. dibenamkan dalam narasi. hidup ternyata tidak terlalu sederhana. senyum cukup membutuhkan waktu.
yang sunyi. pelataran dan ladang di waktu pagi. amarah. dan kita berpura suka. setengah berpakaian. berdoa kembali. rindu yang di depan. harum dan mabuk. dan kita berdua-dua. terhuyung. saling menguliti.
bingkai dan karat. hibernasi. konstruksi. mitos. mengayuh lalu mengayakan. kecantikan antara. yang diserut atau dicungkil dari belantara. alasan sementara. kepercayaan yang mungkin. mengembang atau mengambang.
demi massa. mahkota mawar. para pemberani. martir yang datang dengan papirus. antara gaza dan ethiopia. arak dan cabai. ikan asin dan mortir. cawan anggur dan salib. kemajuan dan keraguan. aku menemukanmu. tidak lagi sendirian.
to my beloved child, born February, 23, 2009
me, sarima, dhia
hanyalah bejana berisi nama-nama
yang kuingat
berpusar dalam hatiku, selain Kau
tak ada lagi ragu
yang lahir dan hidup dalam diriku
mati begitu saja
kau,
identitas yang lara
bukankah jalan yang lurus
yang harus kutampik
aku membungkusmu dengan abu
jantungku
ketidakhadiranmu berdetak
aku menamaimu rindu
Bukan sepasang-sepasang
Juga terbungkam
(di belakang truk tertulis)
Bukan mati atau polisi
Tapi Bini yang kutakuti
juni